Untukmu, apakabar? Sosok menyenangkan, penikmat senja, juga pemintal asa yang handal. setelah sekian lama perpisahan yang dipaksakan itu terjadi, sudahkah kamu baik-baik saja? Sekarang mari kita berbincang meski kamu sudah tidak menginginkannya.
Izinkan aku berjalan mendekatimu, jangan selangkahpun bergerak menjauhiku. bisakah kita mendekat sekedar untuk saling menatap? Bisakah kita riuh membicarakan senja sekedar untuk melebur luka? Bisakah kita menertawakan keadaan dan berharap ini hanya sandiwara?
Jarak yang membentang, setumpuk penyesalan dan setangkup harapan adalah hal yang menggelisahkan
Masihkah kamu meluangkan waktu untuk menikmati senja ditemani buku tebal kesayanganmu? Masihkah senja seperti yang sering kita bicarakan? Adakah rasa kehilangan yang diam-diam membuatmu kebingungan? Aku, juga merasakannya.
Untukmu wanita cantik dengan mata yang selalu berbinar-binar saat kita beradu pandang. Sudahkan senja menyampaikan salam rinduku? Ya, aku terlebih dulu merindukanmu, aku kalah. Aku yang kau tinggalkan dan aku yang terluka.
Wanita yang cinta dan kesungguhannya sempat tak benar-benar mampu menguatkan hatiku, dengarkanlah. Secangkir americano kegemaranku dan lemon tea kesukaanmu setidaknya menjadi saksi betapa kita sempat saling diam karena sudah tak mampu saling mengiyakan keinginan. Seperti senja dan fajar yang tak mungkin hadir bersamaan, begitu juga lemon dan kopi yang tidak bisa di sandingkan.
Masih belum bisa kumengerti tentang senja sederhana yang begitu damai ketika ia menyatukan kita, pun saat ia berubah menakutkan dan membuatku kelimpungan.
Sampai pada pernyataan itu, sudahkah kau paham kenapa keputusan untuk meninggalkan menjadi suatu keharusan? Ya, karena memaksa bertahan tak akan merubah keadaan.
Terimakasih untuk cinta yang begitu luar biasa lebih dari siapapun. Maaf untuk kesalahanku memilih cara yang salah untuk menghentikan semua ketidak mungkinan. Terlepas dari apapun, bukankah kita berhak menikmati kebahagiaan dari jalan yang kita telah tentukan? Jadi mari untuk tidak saling memendam rasa dan mencabik-cabik luka.
Terakhir, ya kamu benar bahwa satu-satunya hal yang kita sepakati adalah senja yang meneduhkan. Tapi sekarang senja bagiku sudah berbeda, senja sudah tak lagi sama. Aku sudah berjalan menuju fajar, dan meninggalkan senja yang membuatku ketakutan. Bersenang-senanglah dengan senjamu dan aku akan berlari kencang menuju fajarku. Lagi-lagi kita harus sadar bahwa keadaan memang tidak bisa di paksakan.
Salam hangatku, senjamu dahulu.
0 komentar:
Posting Komentar