Rabu, 19 Oktober 2016

Sepertinya Kita Harus Berhenti Stalking

        Dibohongin orang lain memang pedih. Dikecewain orang lain memang nyesek. Tapi nggak ada yang lebih nyakitin dari dibohongin diri sendiri. Soalnya, mau darimana pun kekecewaan datang, kamu bisa bilang dikecewain orang lain, kamu bisa bilang orang lain menyia-nyiakan kepercayaan yang kamu kasih. Tapi akar dari segala kekecewaan adalah pengharapan yang ada di dalam diri sendiri. Sama seperti pada kasus "STALKING"

Dulu, Manusia itu mahluk Sosial. Sekarang juga manusia itu mahluk Sosial.....Media


        Dalam persoalan Stalking, yang dianggap paling berperan adalah sang target stalking itu. Sang target stalking bisa menentukan mood si stalker dengan mudah. Sangat mudah, Bahkan terlalu mudah. Si Stalker yang tadinya bahagia banget, berubah jadi sedih banget. Itu karena pada kenyataanya, yang paling berperan dalam persoalan stalking adalah harapan - harapan yang muncul pada diri sendiri.


Hati-Hati, Jatuh cinta dapat menyebabkan apapun yang dia twitt terlihat seolah itu buat kamu

        Permasalahan ketika stalking adalah sebelum melakukan kegiatan itu, kamu sedikit banyak pasti sudah punya harapan - harapan yang kamu harap bisa menjawab rasa penasaran. Contoh kecilnya :  "Dia apa kabar ya?" kata stalker dalam hati sebelum memulai stalking. Dan ya, kalimat itu yang sering banget jadi dasar dan awal sebelum stalking . Kalimat yang berbahaya. Lalu setelah bertanya - tanya hal itu, pasti ada keinginan buat ngecek timeline Twitter dia. Harapan paling mendasar setelah pertanyaan tadi terlontar adalah .... "gue bisa tau kabar dia dari twittnya" .


Lalu apa lagi yang ngebuat kamu harus Berhenti Stalking?

Kadang, Menjadi Tidak Tahu itu Menyenangkan

2 komentar:

  1. Stalking adalah dosa yang paling sering dilakukan manusia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang, Menjadi Tidak Tahu itu Menyenangkan

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.