Selasa, 25 Juni 2019

Hi Cinta Dalam Diamku, Kini Aku ikhlas Meski Kamu Lebih Memilih Sahabatku

Aku masih mengingat dengan jelas senyum yang membingkai wajahmu saat pertama kali berjumpa.

        hari- hari berlalu. Kicauan burung, suara kendaraan, lampu kota, jalanan yang kulalui menjadi saksi waktu yang terlewati hanya dengan memandangmu bisu. Kau dengan duniamu, Aku dengan mimpiku.



Saat pertama kali berjumpa denganmu. menatapmu, mendengan suaramu.
Aku mulai belajar berharap "Ah ini dia wanita yang kucari" 
Batinku

        Anganku begitu besar terhadapmu, membawaku melambung tinggi walau hanya menatapmu di balik celah buku yang kubaca. Kau masih sama. Sedangkan aku? Menjadi kurang percaya diri (to good to be true). Aku masih mengingat dengan jelas senyum yang membingkai wajahmu saat pertama kali berjumpa. Jujur saja, senyum itu tidak cukup manis untuk membuat banyak pria terpesona, tetapi aku menyadari satu hal, senyum itu membawa perasaan hangat bagi siapapun yang melihatnya.


ohh...mungkin aku mulai berlebihan menggambarkan senyuman itu. 


         Rasa yang diam-diam tumbuh subur tanpa aku sempat menyadarinya, kuberi pupuk setiap kali aku sengaja mendatang tempat favoritmu. Terkadang aku terbayang untuk sekedar menyapamu atau mengumbar senyum padamu, tetapi lagi-lagi keberanianku hanya sebatas duduk diam mengamati apa yang kau lakukan sembari mencoret-coret buku catatanku dan mencuri pandang terhadapmu.

        Hatiku yang masih rapuh. Merasa bahagia saat melihatmu berjalan menghampiriku. Tetapi aku salah, itu bukan aku tetapi sahabatku. Bukankah harapanku terlalu besar padamu?

        Aku cemburu, tapi aku bisa apa? Dibandingkan sahabatku aku terlalu kecil untuk kau lirik bukan? Aku yang lebih dulu menyimpan rasa padamu dicuri start oleh sahabatku sendiri. Dia yang ceria, luwes, lebih pandai berkata membuatmu mudah jatuh hati padanya. Aku harus mulai belajar menempatkan harapan bukan pada manusia. Aku memiliki -NYA yang tak pernah meninggalkanku, selalu bersamaku, ini teguran untukku.

        Bahkan jika aku adalah seseorang yang cerdas dalam menyusun setiap rencana masa depanku Allah lebih tahu mana yang terbaik. Hati-hati memilih pijakan langkahku akak menentukan seperti apa aku di masa depan. Jadi meskipun tanpa pernah kau tahu perasaanku, aku ingin berhenti. Cukup berhenti dan memulai menuliskan lembaran baru. Terdengar naif, tapi izinkan aku mengucapkan selamat pada kalian.

Aku turut berbahagia melihat kalian bersama ~

        Kini, merelakanmu berbahagia tanpaku menjadi lebih mudah. Sedangkan aku mulai merangkai kembali anganku mencari bahagiaku sendiri dan bersabar kemana takdir akan membawaku, mempertemukan aku dengan orang yang tepat.

         Aku melanjutkan mimpiku yang hanya akan menjadi bualan jika aku tak berani mencoba. Cukup sudah, aku juga perlu menata kembali hidupku hingga seseorang yang terbaik untukku datang melengkapi. Waktu yang terus berjalan yang merubahku. Kau bukan lagi pusat duniaku. Segala yang ku lakukan dulu seperti perbuatan yang sia-sia saja. Tapi tenanglah, aku bukan seorang pendendam yang baik.

        Tidak lag tentangmu. Aku memilih berhenti dan membuat tulisan ini menjadi sebuah narasi yang tak akan pernah kau baca. 

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.